Lompat ke konten

M Tsaqif Fadhil Raih Juara III MQK Internasional se Asia Tenggara yang Digelar Universitas Al Falah As-Sunniyah Kencong

  • oleh

KUDUS – M Tsaqif Fadhil, peserta didik (santri) MA NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, baru-baru ini berhasil mengukir sebuah prestasi yang sangat membanggakan.
Betapa tidak. Tsaqif -sapaan akrab M Tsaqif Fadhil- yang sudah lebih dari empat tahun terakhir nyantri di Pondok Pesantren (Ponpes) Tasywiqul Furqon Kajeksan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus ini berhasil meraih juara III dalam Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Tingkat internasional.
Final MQK internasional se Asia Tenggara yang digelar oleh Universitas Al Falah As-Sunniyah Kencong, Jember, Jawa Timur itu dilangsungkan pada Rabu (23/10/2024) lalu.
“Alhamdulillah, berkat dukungan dan doa kiai serta para ustaz baik di Pondok dan Madrasah, akhirnya saya bisa meraih penghargaan ini,” kata Tsaqif.
Remaja kelahiran Jepara pada 11 Desember 2008 dari pasangan Sukamto dan Siti Mubasyaroh ini mengakui, bahwa untuk bisa sampai tahap ini, dirinya tak akan mungkin bisa melalui dengan baik.
“Tanpa pendampingan dari para kiai dan guru. Khususnya KH Ahmad Bahruddin, Ustaz Noor Rohim dan Ustaz Fathul Umam, mungkin saya tidak akan bisa sejauh ini. Terima kasih atas semuanya,” tuturnya.
Dirinya pun menyampaikan, ada hal yang membuatnya terkesan menghadapi MQK ini. “Menjelang final, KH Ahmad Bahruddin sampai puasa, agar saya diberi kemudahan dalam mengikuti lomba ini dan berhasil mengukir prestasi,” ungkapnya.
KH Ahmad Bahruddin yang mengantarkan Tsaqif dalam final MQK itu di Kencong bersama orang tuanya, mengapresiasi positif atas prestasi membanggakan yang diraih Tsaqif.
“Sungguh membahagiakan melihat semangat anak dalam muthalaah dan antusias anak beserta santri lain dalam memberi dukungan kepada Tsaqif. Terlebih, ketekunannya itu akhirnya berhasil membuahkan prestasi,” tuturnya.
Lebih lanjut KH Ahmad Bahruddin berharap, agar Tsaqif dan semua santri lebih rajin dalam belajar dan rajin muthalaah kitab.
“Semoga semua santri makin rajin belajar, rajin muthalaah kitab, dan akhirnya mendapatkan ilmu yang manfaat dan berkah,” lanjut KH Ahmad Bahruddin menambahkan. (*)